KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji
syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penyusunan makalah dengan judul Integrasi Keilmuan Antara Sains dan islam dapat
berjalan tanpa halangan yang berarti, dari awal sampai selesai.
Penulisan makalah ini
berdasarkan literatur yang ada. Penyusun menyadari akan kemampuan yang sangat
terbatas sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya. Untuk itu
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk lebih sempurnanya
makalah ini.
Dalam kesempatan ini
penyusun mengucapkan terimakasih atas bimbingan, bantuan serta saran dari
berbagi pihak. Akhir kata penyusun mengucapkan beribu-ribu terima kasih dan
semoga tugas ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak.
Cirebon,
Desember 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar …………………………………………………………… i
Daftar
Isi …………………………………………………………………. ii
BAB
I : PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang …………………………………………..... 1
1.2.
Rumusan Masalah …………………………………………..1
1.3.
Tujuan ..........................................................................
2
BAB
II : PEMBAHASAN INTEGRASI KEILMUAN ANTARA SAINS DAN ISLAM
2.1. Objek Kajian Keilmuan
…………………………………........ 3
2.2. Antara Sains dan Agama
……………………………………....4
2.3. Al-Qur’an dan Alam Semesta
………………………………... 7
2.4. Sumbangsi Islam terhadap
Perkembangan Sains dan Teknologi... 10
BAB
III : PENUTUP
3.1. Kesimpulan ………………………………………………….
13
3.2. Daftar Pustaka
……………………………………………..... 14
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada
hakekatnya ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan pencipta Alam, yang berupa
wahyu, alam semesta beserta hukum yang ada di dalamnya, manusia dengan
perilakunya dalam kehidupannya, pemikiran dan pemahamannya serta seluruh
ciptaan dan anugrah Allah yang diturunkan ke bumi demi menghormati manusia yang
ada di dalamnya. Dengan demikian pencipta ilmu pengetahuan adalah Tuhan dan
yang menemukan ilmu pengetahuan tersebut adalah manusia. Atas dasar pandangan
ini kita memahami bahwa dari sekian banyak ilmu yang kita pahami (Ilmu hadits,
Ilmu al-qur’an, matematika, fisika, biologi, geologi, antropologi, seni,
kedokteran, politik, hukum dan lain sebagainya) secara substansial
merupakan rangkaiyan ilmu pengetahuan yang satu yaitu berasal dari Tuhan.
Maka
sebenarnya tidak ada pandangan yang membedakan antara ilmu yang
satu dengan ilmu yang lain karena kita ketahui bahwa ilmu itu tetap ilmu tidak
ada dikotomis ilmu pengetahuan melainkan ilmu itu berasal dari yang satu yaitu
Tuhan semesta Alam. Seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan
istilahnya baik dalam ilmu agama islam, maupun ilmu umum.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah objek kajian keilmuan?
b. Apakah yang dimaksud dengan
sains?
c. Apa sumbangan islam terhadap ilmu
sains dan teknologi?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui objek kajian Keilmuan.
b. Mengetahui pengertian sains.
C. Mengetahui sumbangan islam
terhadap ilmu sains dan teknologi.
BAB
II
INTEGRASI
KEILMUAN ANTARA SAINS DAN ISLAM
2.1 Objek Kajian Keilmuan
Dalam
kajian keilmuan, pembagian adanya ilmu agama dengan ilmu umum adalah kesimpulan
manusia yang mengidentifikasikan ilmu berdasarkan objek kajian. Tetapi
ketika kita melihat bahwa Al-qur’an dan Sunnah sesungguhnya tidak
membedakan antara ilmu agama dengan ilmu umum, bahkan menurut Imam Suprayogo
dalam bukunya Rekonstruksi Paradigma Keilmuan Perguruan Tinggi Islam
menyetakan bahwa posisi ilmu agama dan umum digambarkan dalam bentuk pohon
ilmu, dimana Al-qur’an dan sunnah diposisikan sebagai hasil eksperimen dan
penalaran logis atau menjadi sumber keilmuan.
Maka makna integrasi keilmuan dalam
bingkai lembaga pendidikan setidaknya meliputi lima objek kajian:
1. Jika objek antologis yang
dibahasnya adalah wahyu (al-qu’an) termasuk penjelasan Nabi saw berupa hadist
dengan menggunakan metode ijtihad maka ilmu yang dihasilkan adalah ilmu-ilmu
agama seperti teologi islam, fiqih, tafsir, hadist dan tasawuf.
2. Jika objek antologis yang
dibahasnya adalah alam semesta, jagat raya termasuk Galaxi bima
sakti seperti langit bumi berserta segala isinya maka ilmu yang dihasilkan
adalah Natural Sciences (ilmu alam) yaitu astronomi, astrologi, geologi,
fisika, kimia, matematika, biologi dan lain sebagainya.
3. Jika objek kajian antologisnya
perilaku ekonomi, perilaku budaya, agama, sosial dengan menggunakan penelitian,
eksperiment di Laboratorium seperti wawancara, observasi, penelitian terlibat (ground
Research) maka yang dihasilkan adalah ilmu-ilmu sosial, ilmu politik, ilmu
hukum, ilmu budaya, sosiologi agama dan lain sebagainya.
4. Jika objek pemikirannya adalah
akal pikiran dan pemikiran yang mendalam dengan menggunakan metode mujadalah
atau logika terbimbing, maka yang dihasilkan adalah filsafat dan ilmu-ilmu
Humaniora.
5. Jika objek kajiannya berupa
intuisi batin dengan menggunakan mentode pencucian batin (tazkiyah an-nafs)
maka ilmu yang dihasilkan adalah ilmu ma’rifah.
Inilah objek kajian yang kita kenal
dalam lembaga pendidikan kita, sehingga basis keilmuan (ontologis),
batas-batas dan dasar pengetahuan (epistimologis) dan kegunaan ilmu
pengetahuan bagi kehidupan manusia termasuk kajian tentang nilai, etika dan
estetika (aksiologi) merupakan program integrasi keilmuan. Karena
bangunan keilmuan yang telah terintergrasi tidak mempunyai arti jika didominasi
oleh ilmu yang tidak bermoral (bernilai spriktual), sehingga diperlukan
integrasi keduanya (ilmu agama dan ilmu umum). Jika seorang ilmuwan tidak mampu
memahami dan mengintegrasi ilmu yang telah diturukan di bumi (sesuai dengan keadaan
dan permintaan penghuni bumi) maka sebaiknya ilmu tersebut di kembalikan
ke Langit saja agar langit tidak repot lagi memikirkan keadaan bumi.
2.2 Antara
Sains dan Agama
Ilmu
sains tergolong dalam kumpulan sains terapan yang dikaitkan dengan teori
dan dasar untuk menciptakan suatu hasil atau sesuatu yang dapat member manfaat
kepada manusia. Jelasnya sains merupakan pemahaman ilmu tentang fenomena fisik
yang sesuai dengan perspektif islam yang digunakan di dalam teknologi dengan
menggunakan kaidah yang paling efisien dan tepat di dalam mengkaji ilmu
pengetahuan.
Sains adalah produk manusia seperti
halnya musik, film, lukisan, bangunan dan lain sebagainya. Begitu mendengar
suara alunan musik, seseorang dapat langsung mengenali apakah ini tipe music
keconcong, pop, dangdut, jaz atau yang lainnya. Demikian pula melihat film,
lukisan, bangunan dan lain sebagainya, bisa kita identifikasi objek apa yang
kita lihat.
Secara
sederhana, sains dapat dikatakan sebagai produk manusia dalam menyimak
realitas. Terkait dengan penyertian ini, maka sains juga tidak menjadi tunggal
atau dengan kata lain akan ada lebih dari satu sains dan satu dengan yang lain
dibedakan pada apa makna relitas dan cara apa yang dapat diterima untuk
mengetahui realitas tersebut. Tujuan sains dalam perspektif agama adalah untuk
mengetahui watak sejati segala sesuatu sebagaimana yang telah diberikan tuhan
dan memperlihatkan kesatuan hukum alam, hubungan seluruh bagian dan aspeknya
sebagai refleksi dari kesatuan prinsip ilahiah.
Prinsip
ilahiah (ayat-ayat kauniyah) yang terkandung dalam Al-qur’an dan Sunnah lebih
istimewa dari mukjizat nabi-nabi sebelumnya dapat dinikmati dari zaman Rasulullah
saw sampai akhir jaman. Prinsip ilahiyah inilah yang meliputi bidang kajian
ilmu pengetahuan dan ilmu sosial hingga ilmu alam yang bersifat empiris,
prinsip ini sesuai dengan perubahan jaman yang mengagungkan kecerdasan akal
serta sains dan teknologi.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam
Al-qur’anul karim:
Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda kekuasaan kami dari segenap penjuru dan pada diri mereka
sendiri sehingga jelaslah bahwa Al-qur’an itu benar…….. (QS
Fussilat 41:53)
Disegenap penjuru itu artinya
disemua bidang ilmu pengetahuan termasuk ilmu alam dan ilmu eksakta dan masih
banyak ayat-ayat al-qur’an yang mendorong manusia supaya berfikir dan mengkaji
serta memahami alam raya ini seperti:
“……maka apakah kamu tidak
menggunakan akal? “ (QS. Al-an’am 6 : 32)
“……maka apakah mereka tidak
memikirkannya?” (QS Yassin 36 : 68)
“……maka
apakah kamu tidak memperhatikannya?” (QS Al-Dhariyat 51: 21)
“Maka mereka tidak memperhatikan
Al-Qur’an? Kalau sekitranya Al-Qur’an bukan dating dari Allah SWT tentulah
mereka menemukan pertentangan yang banyak didalamnya”. (QS An-Nisa’ 4: 82)
Ditambah
pula dengan hadist yang terkenal dari rasulullah saw ;
- “Belajar adalah suatu kewajiban
atas setiap muslim, lelaki atau perempuan” (HR Ibnu Majah)
- “Tuntutlah ilmu sampai ke
negeri Cina” (HR Masyhut)
- “Barang siapa yang memudahkan
jalan untuk mencari ilmu niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke Surga” (HR
Muslim)
- “barang siapa yang keluar untuk
mencari ilmu ia berada di jalan Allah sehingga ia kembali” (HR
At-Tirmidzi)
Berfikir dan membuat penelitian
tentang jagad raya ditegaskan oleh Al-Qur’an karena dapat memperkokoh iman si
pengkaji dan hasil kajiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia seperti penemuan
teori Barat modern yang termasyur yang dikenal dengan The Big Bang Theory
(teori ledakan besar) yang menyatakan bahwa alam semesta (galaxies) yang
ada sekarang adalah hasil suatu ledakan besar dari satu pusat (nebula
utama), dana juga menurut teori ini pada akhir jaman semua bahan-bahan di alam semesta
akan bertemu kembali menuju satu pusat yang sama yang dikenal dengan lubang
hitam (black Hole). Dari teori ini, kita ketahui bahwa tidak ada
perbedaan antara penemuan ini dengan intruksi Al-qur’an yang turun berabad-abad
sebelum ditemukan the big bang theory, Allah telah menggambarkan
bagaiman proses penciptaan Alam semesta dan kemudian menginformasikan bahwa
akan terjadi hari kiamat (the last after) dalam firmannya:
Dan apakah orang-orang kafir, tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu padu,
kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami ciptakan yang hidup.
Maka mengapakah mereka juga tidak beriman (QS. Al-Anbiyah 21:30) …..
(Ingatlah)
pada hari kami menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas… (SQ
Al-Anbiya 21:104)
Kedaan langit pada hari Kiamat itu
hampir sama dengan teori “menggulung langit” oleh ahli astronomi Barat
yang menyatakan bahwa semua bahan di alam semesta akan kembali menuju kesuatu
pusat yang sama bernama Black Hole.
Oleh karena itu sejarah telah
mencatat bahwa ledakan ilmu yang pertama dalam sejarah manusia
terjadi dalam peradaban islam. Peradaban Islamlah yang pertama kali
meletakan dasar ilmu pengetahuan yang menggunakan kaidah yang logis, sistematis
dan eksperimental. Kini, sains dan teknologi dipuja dan diletakan pada posisi
yang tinggi seolah-olah bisa menyelesaikan semua masalah manusia.
2.3 Al-Qur’an dan Alam Semesta
Al-Qur’an telah menambahkan dimensi
baru dalam studi mengenai fenomena fisik dan membantu pikiran manusia untuk
melampaui batasan-batasan alam materi. Al-qur’an sama sekali tidak memandang
bahwa dunia materi adalah sesuatu yang lebih rendah. Bahkan sebaliknya,
Al-qur’an dengan tegas menyatkan bahwa dalam dunia materi terdapat tanda-tanda
yang dapat membimbing manusia kepada Allah, membuka misteri kegaiban dan
sifat-sifat keagungan-Nya.
Alam semesta yang sedemikian luas
ini adalah ciptaan Allah swt dan Al-qur’an mengajak manusia untuk
menyelidikinya, mengungkap misteri keajaiban dan rahsianya serta memerintahkan
manusia untuk menyaksikan eksistensi Tuhan melalui ciptaan-Nya, menyingkap
tabir kegaiban-Nya melalui perhatian mendalam akan realitas kongkrit yang
terhampar luas di langit dan di bumi. Inilah yang harus dilakukan oleh ilmu
pengetahuan yakni melakukan observasi untuk kemudian menarik dana menemukan
hukum-hukum alam yang dpeeoleh dari hasil observasi dan eksperimen. Dengan kata
lain dapat sampai ke sang pencipta melalui observasi yang diteliti dan tepat
tentang hokum-hukum yang mengatur fenomena alam semesta. Dalam hal ini
Al-qur’an menunjukan adanya realitas intelektual yang agung yaitu Allahswt
lewat penelitian yang cermat dan mendalam akan semua ciptaan-Nya.
Al-qur’an
menegaskan bahwa pikiran yang menyatakan bahwa alam semesta diciptakan sebagai
sebuah permainan belaka hanya timbul dari orang yang tidak beriman kepada Allah
dan Hari Akhir, maka seharusnya menyadari bahwa alam semesta yang sedemikian
luas ini, dengan keajaiban dan rahasia yang tersimpan di dalamnya, bukanlah
diciptakan oleh seorang untuk tujuan bermain-main melainkan diciptakan
oleh Tuhan yang maha bijaksan dan yang maha adil. Sungguh tidak wajar anggapan
yang menyatakan bahwa Allah pencipta alam semesta ini dengan sia-sia sebab
perbuatan baik dan buruk, kebaikan dan keburukan masing-masing akan mempeoleh
balasan. Anggapan penciptaan alam semesta sebagai permainan belaka merupakan
khayalan sia-sia dari orang kafir karena seluruh alam semesta beserta isinya
itu diciptakan dalam kebenaran dan keadilan sebagaimana difirmankan Allah: ..
Dan kami tidak menciptakan langit
dan bumi beserta apa yang ada diantara keduanya dengan bermain-main. kami
tidak menciptakan keduanya melainkan dengan tujuan yang hak (benar) tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Dukhan 44:38-39)
Dengan demikian, orang yang beriman
akan tetap berdiri di atas landasan yang kukuh, memahami dan menyadari
alasan-alasan penciptaan yang ditentukan oleh Allah sang pencipta. Dalam
penilaianya, Allah adalah pencipta alam semesta, Allah adalah kebenaran
tertingi dan sebab dari semua sebab, dia tetap ada pada saat tidak ada
sesuatupun dan Dia akan tetap ada pada saat segala sesuatu akan kehilangan
keberadaanya. Sebaliknya kaum kafir berdiri di atas landasan yang rapuh dan
berbicara hanya berdasarkan pada dugaan, ramalan dan prasangka yang tidak
pasti. Pandangan sedemikian sempit dan dibatasi oleh tabir struktur materi,
sehingga ia tidak mampu melihat hakikat sesuatu yang berada dibalik materi itu.
Inilah perbedaan yang paling mendasar antara orang yang beriman dengan
orang yang tidak beriman.
Orang yang beriman berpikir bebas
dan melihat hidup sebelum dan sesudah berakhirnya alam semesta sebagai dua sisi
dari gambar yang sama. Sedangkan orang kafir berdiri sebagi orang yang
terpenjara oleh alam semesta, mereka melihat dunia ini seolah-olah kekal dan
abadi. Mereka tidak mampu memahami bahwa kekekalan dan keabadian itu
sesungguhnya hanya ada pada sifat-sifat Allah tuhan yang menguasai alam semesta
ini. Allah berfirman:
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan
bumi. Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia maha kuasa atas segala
sesuatu. Dialah yang awal dan yang akhir, yang dzahir dan yang batin dan Dia
maha mengetahui segal sesuatu. (QS Al-Hadid 57:2-3).
Al-qur’an
berusaha mengangkat derajat manusia pada kedudukan yang tinggi dengan
menunjukan bahwa manusia diberikan kemampuan untuk melihat dan memahami
sifat-sifat sejati Allah dan kemudian merenungkan kemuliaan dan kebesara-Nya.
Jadi
Al-qur’an memberikan kepada manusia kunci ilmu pengetahuan tentang bumi dan
langit seta menyediakan peralatan untuk mencari dan meneliti segala sesuatu
agar dapat mengungkap dan mengetahui keajaiban dari kedua dunia itu. Al-qur’an
juga mendorong manusia untuk memperoleh sesuatu dari dunia iniyang bermanfaat
bagi kesejahteraan. Al-qur’an juga mengajarkan agar manusia tidak khawatir atau
takut terhadap kekuatan itu secara tepat karena semua itu diciptakan bagi
kepentingan hidup manusia.
2.4 Sumbangsi Islam terhadap Perkembangan Sains dan Teknologi
Terdapat beberapa faktor yang
menggerakan penemuan baru dalam teknologi islam terutama pada abad VIII M
hingga XII M yaitu puncaknya perkembangan teknologi dan peradaban islam.
Peranan yang dimainkan islam melalui ajaran merupakan gaya baru momentum yang
tinggi dalam pencapaian teknologi pada waktu tersebut. Al-qur’an banyak
sekali menyebut tentang seruan Allah agar manusia terus tekun menimba ilmu
pengetahuan dan berusaha dalam mencapai penemuan-penemuan baru dengan
memikirkan tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam menciptakan alam ini.
Bahkan surat yang pertama yang diturunkan kepada Muhammad saw adalah
seruan tuhan kepada manusia untuk mencari ilmu pengetahuan.
Peradaban sains dan teknologi serta
kebudayaan dalam perkembangan islam disebabkan oleh meningkatnya taraf
kehidupan dikota-kota yang dihuni oleh islam. Peradaban kota tersebut
disebabkan oleh ajaran islam yang diamalkan oleh penduduknya maka secara tidak
langsung, islamlah yang telah mendorong, mengembangkan dan meningkatkan
kemajuan teknnologi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang
dikatakan oleh George Sarton (ilmuan sains Barat) bahwa: “Para
pengkaji yang berhubungan dengan zaman pertengahan telah memberikan kepada kita
ide palsu sama sekali tentang pemikiran sains zaman pertengahan karena
kemampuan mereka yang terlalu eksklusif kepada pemikiran barat, sedangkan
pencapaian tertinggi telah diperoleh oleh orang-orang timur…… sebutan orang ini
kepada mereka……Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Thabit Ibnu-Qura, Al-Kharkhi, Omar
Khayam dll, yang semuanya lebih tinggi dari sarjana-sarjana yang dipuja
dibarat”
Kemudian Sarton menegaskan lagi
bahwa : “Abad ke-9 hampir sepenuhnya berupa abad orang islam,…
kegiatan sarjana-sarjana islam dan orang sainsnya, amatlah superior. Merekalah
yang menjadi pemegang piwai sebenarnya bagi peradaban masa itu”. Sebelum
Salton mengemukakan ini, Smith telah lebih dulu menegaskan dalam bukunya
“The History of Mathematics” bahwa : “Eropa telah berhutang atas Renaissancenya
(Pembaharuanya) Kepada zaman keemasan islam ini.
Dalam bidang sains dan teknologi
meliputi matematika, kimia, fisika, geologi, astronomi dan lain sebagainya.
Namun demikian, tidak seperti bidang-bidang sains lain penemuan teknologi
dibidang sains hasil sumbangan pengkaji islam tidak banyak yang dapat diperoleh
untuk dijadikan rujukan masa kini. Ini bukan berarti pengkaji islam tidak
banyak menyumbangkan teknologi dalam bidang sains, akan tetapi sebab
utamanya terjadi keadaan demikian didasarkan dua factor sabagai berikut:
1. Pakar-pakar sains dan teknologi
pada masa itu lebih banyak menfokuskan usaha-usaha mereka ke arah penggunaan
teknologi yang diciptakan dari penemuan mereka, bidang penulisan tidak
difokuskan sepenuhnya oleh karena desakan yang kuat dan keperluan yang penting
untuk menciptakan dan menggunakan teknologi yang dihasilkan.
2. Memang tidak tidak bisa
dipungkiri bahwa ketika jatuhnya satu demi satu negeri-negeri muslim ditangan
penjajah, banyak buku-buku dan manuskripsi yang dihasilkan oleh ilmuan-ilmuan
muslim telah musnah dan binasa. Antara buku-buku yang masih tertinggal dan
dapat diselamatkan ialah kitab al-Hiyal yang ditulis oleh Al-Jazari, Book of
Artifinces yang ditulis oleh Banu Musa dan The Sublime Methods Of
Spritual Mechines yang ditulis oleh Taqi Al-Din.
Sumbangan sains mekanikal yang utama
dalam teknologi islam ialah alat mengangkut air untuk digunakan untuk
pengairan, perumahan, industry dan lain sebagainya. Mesin pengangkut air yang
pertama disebut shaduf yang digunakan Mesir dan Syria, alat yang murah dan
mudah ini masih digunakan di Mesir hingga sekarang. Dua lagi alat pengangkut
air yaitu Saqiya dan Nauja. Saqiya digerakan oleh tenaga seekor binatang ternak
digunakan untuk memutarkan roda sehingga air bisa diangkut sedangkan Nauja
yaitu perbaikan mesin yang pertama dengan menggunakan empat pencedok untuk
meningkatkan kuantitas air ynag diangkat. Oleh karena itu, benar yang dikatakan
oleh Dr-Ing Fahmi Amhar (2010) dalam bukunya TSQ Stories: Kisah-kisah
penelitian dan pengembangan sains dan teknologi dimasa Peradaban Islam
bahwa negeri kincir angin yang pertama bukan Belanda. Dia melanjutkan bahwa
negeri kincir Angin pertama-tama pastilah suatu wilayah dalam Daulah
Khilafah. Daulah Islam banyak wilayah yang kering, dimana air saja cukup
langka, apalagi sungai yang dimanfaatkan sebagai sumber energy. Karena itu, di
daerah kekurangan air tetapi memiliki angin yang stabil, kincir angin dapat
dikembangkan sebagai altenatif sumber energy untuk industry.
Pengembangan teknologi kincir angin
dimuat dengan jelas dalam kitab Al-Hiyal karya Banu Musa bersaudara dan kincir
angin pertama kali digunakan dipropinsi Sistan, Iran timur sebagai mana dicatat
oleh geographer Istakhri pada abad ke-9 M. Jadi masuk diakal jika sejarahwan Joseph
Needham (1986) menulis bahwa “sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh
kebudayaan Islam”
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat
disimpulkan bahwa dalam kajian keilmuan pembagian adanya ilmu agama dengan ilmu
umum adalah kesimpulan manusia yang mengidentifikasikan ilmu berdasarkan
objek kajian akan tetapi semua ilmu itu berasal dari tuhan pencipta semesta
Alam. Begitu pula dengan sains dan teknologi tidak pernah bertentangan
dengan ajaran islam. Itu sebabnya ilmuan muslim pada saat itu menggali
inspirasinya berdasarkan Al-qur’an dan sunnah Rasul saw.
Perkembangan sains menyebabkan umat
islam lebih memahami dan meyakini akan keagungan Allah swt karena semakin
banyak kita menemukan pengetahuan baru maka semakin kita merasa bahwa ilmu yang
kita miliki masih sedikit dibandingan dengan ilmu Allah sehingga bertambahlah
keyakinan kita akan keagungan Allah tuhan semesta alam. Sementara jika
teknologi yang mementingkan kehidupan materelistik dan keduniaan semata tanpa
dilandasi dengan keimanan kepada Allah swt sebenarnya tidak akan memberikan
manfaat kepada manusia, malahan akan menimbulkan mudharat dan kebinasaan bagi
manusia itu sendiri.
Daftar Pustaka
Alhumami, A. 2006. Sains dan
Teknologi dalam Islam. Jakarta: Republika
Bambang Pranggono, H. 2005. Mukjizat
Sains dalam Al-Qur’an: Menggali Inspirasi Ilmiah. Bandung: Ide Islami
Rahman, Afzalur. 2007. Ensiklopedia
Ilmu dalam Al-Qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalm Al-Qur’an.
Bandung: PT Mizan Pustaka
Sulaiman Nordin. 2000. Sains
Menurut Perspektif Islam. Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur dengan PT.
Dwi Rama.
Purwanto,
Agus. 2008. Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan. Bandung:
PT Mizan Pustaka.
http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/15/integrasi-keilmuan-antara-sains-dan-islam-590042.html