Welcome To My blog

Kamis, 23 April 2015

Pengaruh Perubahan Sosial Budya terhadap Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehidupan itu adalah suatu yang dinamis, dengan demikian setiap kehidupan akan senantiasa mengalami perubahan, dan pada konteks manusia, maka manusiapun juga akan mengalami perubahan, baik ia sebagai individu  maupun  masyarakat. Dan dalam perubahan yang terjadi  pada  masyarakat bisa terjadi dalam pola perilaku individu maupun organisasi, perubahan dalam norma sosial, interaksi juga termasuk pendidikan.
Karena kehidupan itu dinamis, maka perubahan yang terjadi  adalah suatu fenomena yang lumrah atau  normal pengaruhnya bahkan bisa menjalar dan merambah kebagian belahan dunia lain dengan cepat dan efektif karena didukung oleh kemajuan komunikasi yang canggih dan modern. Penemuan-penemuan baru dibidang teknologi tanpa kita sadari juga sangat mempengaruhi perubahan sosial yang juga akan berdampak pada pendidikan.
Suatu perubahan  sosial yang  terjadi sekecil apapun mungkin akan berakibat pada struktur kehidupan masyarakat yang lainnya, misalnya pada perubahan gaya berpakaian akan menghasilkan akbibat pada ekonomi masyarakat, karena suatu model yang tren akan senantiasa diikuti masyarakat yang menyenangi model-model  pakaian yang terbaru. Sama halnya dampak dari perubahan sosial akan berakibat pada Pendidikan  pada khususnya.


1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengaruh perubahan social budaya terhadap pendidikan di desa Cupang?
b. Perubahan sosial  yang terjadi berpengaruh negatif atau positif ?
      c.  Bagaimana cara masyarakat desa Cupang  dalam menyikapi perubahan social budaya terhadap pendidikan?
     

      1.3 Tujuan
      a. Mengetahui  pengaruh perubahan social budaya terhadap pendidikan di desa Cupang.
      b. Mengetahui perubahan social berpengaruh negatif atau positif.
      c. Mengetahui cara masyarakat desa Cupang dalam menyikapi perubahan.








BAB II
PEMBAHASAN
PENGARUH PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA TERHADAP PENDIDIKAN

2.1 Perubahan Sosial Budaya
            Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.
            Ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur budaya materiil dan immateriil, artinya setiap unsur budaya masyarakat yang bersifat materiil dan immateriil (sprituil) juga rentan atau cendrung terhadap perubahan. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Kingsley Davis yang mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat, sehingga akan disebut suatu perubahan sosial kalau tatanan dan fungsi dalam masyarakat yang berubah.
Soerjono Soekamto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar, mengutip pendapat Gillin dan Gillin tentang perubahan sosial sebagai suatu variasi dari suatu cara hidup yang telah ada dan diterima dalam suatu masyarakat, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi (susunan) penduduk, ideologi ataupun juga karena adanya difusi maupun penemuan-penemuan teknologi terbaru dalam suatu masyarakat. Jadi jika suatu masyarakat mengadakan atau melakukan suatu variasi atau cara lain dari kebiasaan yang sudah ada, maka hal itu dinamakan perubahan.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa perubahan sosial yaitu perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi dalam sistem sosial, yang mana termasuk didalamnya aspek kebudayaan juga nilai-nilai, norma, kebiasaan, kepercayaan, tradisi, sikap, maupun pola tingkah laku dalam suatu masyarakat. Atau jika kita melihat adanya perbedaan keadaan yang terjadi sekarang dalam suatu masyarakat jika dibandingkan dengan keadaannya dahulu, maka hal itu dapat dikatakan bahwa dalam struktur sosial masyarakat tersebut telah berubah.
Adapun Pendidikan  yaitu sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan kepada seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai kepribadiannya. Pengertian lainnya mengatakan bahwa Pendidikan  merupakan pewarisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagai yang termaktub dalam al-Qur’ân dan terjabar dalam Sunnah Rasul, jadi yang dimaksudkan dengan Pendidikan  adalah dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam  Dengan demikian ciri yang membedakan antara Pendidikan  dengan pendidikan lain, yaitu adanya penggunaan ajaran Islam sebagai pedoman dalam proses pewarisan dan pengembangan budaya ummat manusia atau masyarakat tersebut.
Dapat dikatakan bahwa seseorang yang mendapatkan Pendidikan  harus mampu hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam, dengan kata ketika seseorang yang menerima Pendidikan  maka ia menjalankan kehidupannya sesuai dengan koridor ajaran Islam, yaitu al-Qur’ân dan Hadits. Dengan demikian pengertian Pendidikan  adalah suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang diperlukan seorang hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi dan terlebih ukhrawi.

2.2 Pengaruh Perubahan Sosial Budaya Terhadap Pendidikan Di Desa Cupang
            Aspek sosial dalam pendidikan sangat berperan pada pendidikan begitu pun dengan aspek budaya dalam pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya.
              Desa Cupang terletak di Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat. Masyarakat di sini merupakan masyarakat yang dinamis meskipun ada juga beberapa anggota masyarakat yang masih sulit untuk menerima perubahan.Kebanyakan anggota masyarakat yang sulit dalam menerima perubahan adalah yang berusia tua atau lanjut. Mereka masih mempertahankan kebudayaan ataupun prinsip yang sudah lama mereka pakai. Dalam bidang pendidikan dulu masyarakat desa  kebanyakan hanya lulusan SD,SMP,  kedua orang tua,nenek,paman atau bibi saya rata-rata hanya lulusan SD,SMP.Hal ini membuktikan bahwa pendidikan dulunya masih rendah.Namun sudah mengalami perubahan, dibuktikan dengan sepupu saya yang lulus sekolah sampai SMK.Kemudian saya yang sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Cirebon.Hal yang sama terjadi pula pada anggota masyarakat lain yang sekarang mau menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.Hal ini dipicu juga oleh dorongan dari orang tua atau keluarga yang ingin melihat anak mereka kesuksesannya melebihi orang tua, juga perekonomian yang sekarang sudah jauh lebih baik dari pada dahulu. Ketika orang tua sudah memiliki niat dan keinginan yang kuat untuk menyekolahkan anak mereka tentu saja hal itu akan menumbuhkan motivasi pada diri anak sendiri.
Pendidikan adalah suatu bentuk dari perwujudan seni dan budaya manusia yang terus berubah (berkembang) dan sebagai suatu alternatif yang paling rasional dan memungkinkan untuk melakukan suatu perubahan atau perkembangan. Dan sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi dalam sistem sosial, yang mana termasuk didalamnya adalah pendidikan, karena pendidikan ada dalam masyarakat, baik itu pendidikan formal, informal, maupun non formal (ada istilah lain yang menyebutkan ketiga istilah tersebut, yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah), dan perubahan sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat sangat berpengaruh terhadap pendidikan, dan tidak terkecuali Pendidikan.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat desa Cupang sangat berpengaruh pada pendidikan dan Pendidikan  pada khususnya, namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi berdampak positif, tetapi ada juga perubahan sosial yang menghasilkan akbit buruk bagi dunia Pendidikan , berikut sisi positif dan negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan :
      1.      Dampak positif
Sisi positif dari sebuah perubahan sosial bagi Pendidikan  adalah dapat meningkatnya taraf Pendidikan  dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat menghasilkan manusia yang siap menghadapi perubahan sosial tersebut dengan mengacu pada ajaran-ajaran Islam.
      2.      Dampak negatif
Sedangkan dari sisi negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah ketidaksiapan Pendidikan  menerima perubahan yang begitu cepat dan drastis, artinya lembaga Pendidikan  harus lebih siap dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin berkembang dan terus menerus berubah.
Apalagi dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat yang membuat banyaknya pengaruh budaya dari luar yang merasuk pada kehidupan dan cara hidup anak-anak muslim. Siaran televisi dan akses internet yang sudah bisa dilakukan dimana saja, menjadi tantangan tersendiri bagi Pendidikan  untuk mengantisipasinya, jika Pendidikan  tidak siap terhadap perubahan tersebut maka, Pendidikan  akan tergusur, tetapi tidak jika para pegiat Pendidikan  senantiasa berinnovasi dan berkreasi dalam mengantisipasi perbuhan tersebut, dengan tentunya tidak terlepas dari tuntunan ajaran Islam.

2.3 Cara Masyarakat Desa Cupang dalam Menyikapi Perubahan
            Dalam setiap masyarakat pasti memiliki cara sendiri-sendiri dalam menyikapi suatu perubahan yang terjadi. Mempunyai filter masing-masing mengenai perubahan apa yang harus diikuti dan apa yang harus dihindari,atau dapat dikatakan memilah-milah yang sesuai dengan kepribadian kita masing-masing.
            Disini masyarakat Desa Cupang mengikuti dan menyikapi dengan positif perubahan sosial yang menyangkut pendidikan.Karena mereka ingin kesejahteraan dan perekonomian anaknya melebihi orang tuanya.Bentuk-bentuk dukungan masyarakat Desa Cupang bahwa mereka mendukung adanya pendidikan yang lebih tinggi yaitu dengan menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi,mendukung anak-anaknya untuk ikut bimbel,dll.
            Perubahan terhadap pendidikan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat desa Cupang. Yang tadinya desa Cupang sebuah desa terpencil kini sudah menjadi suatu desa yang berkembang kearah kemajuan. Dengan didukung dengan kemajuan teknologi suatu desa terpencil pun tidak sulit untuk mencapai suatu perubahan kearah kemajuan.














BAB III
PEMBAHASAN HASIL WAWANCARA
            Setelah saya mewawancarai Kepala Desa Cupang Bapak Casmana Badra Renggana didapatlah hasil sebagai berikut
3.1 Pengaruh Perubahan Sosial Budaya
            Menurut bapak Casmana kepala desa Cupang “pengaruh perubahan social budaya di desa Cupang sangat cepat, apa lagi didukung dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat di zaman modern ini. Dengan adanya perubahan social kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang signifikan, yang kala itu kehidupan social masih sangat sederhana,dan menjunjung nili-nilai kebersamaan diantara masyarakat, sekarang sudah mengalami perubahan kearah kemajuan”.
            Katanya “Segala sesuatu yang mengalami perubahan pasti akan ada pengaruhnya baik pengaruh itu bersifat positif atau negative”. Lanjutnya “Semua pasti membutuhkan proses ketika akan menuju suatu hal yang lebih baik.Ada beberapa pengaruh atau dampak yang terjadi ketika Desa Cupang mengalami sebuah perubahan meskipun perubahan itu adalah perubahan kecil yang tidak begitu berpengaruh bagi struktur sosial dalam masyarakat”.
3.2 Perubahannya Berdampak Positif atau Negatif
            Kata bapak casmana “Dalam setiap masyarakat pasti memiliki cara sendiri-sendiri dalam menyikapi suatu perubahan yang terjadi. Mempunyai filter masing-masing mengenai perubahan apa yang harus diikuti dan apa yang harus dihindari,atau dapat dikatakan memilah-milah yang sesuai dengan kepribadian masyarakatnya masing-masing”.  Menurutnya disini masyarakat Desa Cupang mengikuti dan menyikapi dengan positif perubahan sosial yang menyangkut pendidikan. Karena mereka ingin kesejahteraan dan perekonomian anaknya melebihi orang tuanya.

3.3 Cara masyarakat desa Cupang dalam  menghadapi perubahan social budaya terhadap pendidikan
            “Dalam menghadapi perubahan masyarakat desa Cupang menanggapinya dengan tangan terbuka, selama perubahan itu baik untuk kelangsungan hidup bermasyarakat”, katanya. “Terutama dalam perubahan social yang menyangkut pendidikan karena dapat menjadikan masyarakat desa yang intelektual”,lanjutnya.

3.4 Landasan Teori
            Menurut William F. Ogburn, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun yang immaterial dengan menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsur-unsur materiil.
      Teori Materialis (Materialist Theory)
Ogburn memusatkan perhatian pada perkembangan teknologi dan ia menjadi terkenal karena mengembangkan ide mengenai ketertinggalan budaya dan penyesuaian tak terelakkan dari faktor-faktor kebudayaan terhadap teknologi.
“Teori ketertingalan kebudayaan” ini melibatkan dua variable yang telah menunjukkan penyeswuaian pada waktu tertentu. Tetapi karena penciptaan atau penemuan baru, salah satu variabel berubah lebih cepat daripada varuiabel lain. Dengan kata lain, bila laju perubahan bagian-bagian yang saling tergantung dari satu kebudayaan tidak sama, maka kita berhadapan dengan kondisi ketertinggalan kebudayaan, dan penyesuaian selanjutnya “kurang memuaskan” dengan tujuan yang dicapai mula-mula, (Lauer, 1993: 209).
Ketidakmampuan menyesuaikan diri yang dikemukakan Ogburn ini berakibat bagi kualitas hidup manusia. Ia menyatakan ada dua jenis penyesuaian sosial. Pertama, penyesuaian antara berbagai bagian kebudayaan. Kedua, enyesuaian antara kebudayaan dan manusia. Masalah penyesuaian manusia terlihat dalam berbagai jenis ketegangan dan perampasan hak, kejahata, pelacuran, dan berbagai masalah sosial lain yang merupakan tanda-tanda ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, (Lauer, 1993: 210).
Teori Materialis yang disampaikan oleh William F. Ogburn pada intinya mengemukakan bahwa:
      1.      Penyebab dari perubahan adalah adanya ketidakpuasan masyarakat karena kondisi sosial yang berlaku pada masa yang mempengaruhi pribadi mereka.
      2.      Meskipun unsur-unsur sosial satu sama lain terdapat hubungan yang berkesinambungan, namun dalam perubahan ternyata masih ada sebagian yang mengalami perubahan tetapi sebagian yang lain  masih dalam keadaan tetap (statis). Hal ini juga disebut dengan istilah cultural lag, ketertinggalan menjadikan kesenjangan antar unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan kejutan sosial pada masyarakat. Ketertinggalan budaya menggambarkan bagaimana beberapa unsur kebudayaan tertinggal di belakang perubahan yang bersumber pada penciptaan, penemuan dan difusi. Teknologi, menurut Ogburn, berubah terlebih dahulu, sedangkan kebudayaan berubah paling akhir. Dengan kata lain kita berusaha mengjar teknologi yang terus menerus berubah dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk memenuhi kebutuhan teknologi. Teknologi menyebabkan terjadinya perubahan sosial cepat yang sekarang melanda dunia.
      3.      Perubahan teknologi akan lebih cepat dibanding dengan perubahan pada perubahan budaya, pemikiran, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma yang menjadi alat untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, perubahan seringkali menghasilkan kejutan sosial yang yang apada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku baru, meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya yang terjadi di lingkungan dapat saja mempengaruhi pelaksanaan prinsip-prinsip Pendidikan  di masayarakat desa Cupang, karena prinsip-prinsip tersebut bisa saja tidak berjalan dengan baik karena perubahan sosial yang terjadi, misalnya berubahnya pola pikir masyarakat dari orientasi agama kepada orientasi dunia kerja, sehingga Pendidikan  dimasayarakat sering kali terpinggirkan, menjadi marjinal, dan tidak menjadi pilihan pertama.





DAFTAR PUSTAKA
Arifin, H. M. , Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003)
Berry, David, Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi, (Terj. Paulus Wirutomo, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003)
Tirtosudarmo, Riwanto, Dinamika Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pemuda di Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarma Indonesia, 1994)
Wahyu, Dr. H., MS, Memahami Perubahan Sosial: Aplikasi Teknik Pengendalian dan Analisis Lingkungan Organisasi, (Banjarmasin; Makalah Disampaikan pada Acara Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Regional Kalimantan, tgl. 2 s.d. 6 September 2007)
Yasmadi, Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), (Jakarta: Quantum Teaching, 2004)
Yuliyantho. 2010. William Fielding Ogburn,(diakses dari http://blog.unila.ac.id/young/tokoh-sosiologi/william-fielding-ogburn, pada 22 September 2010).

http://sosiologiantropologiindonesia.blogspot.com/2013/05/perubahan-sosial-budaya-dalam.html